Bukan Sekadar Menghafal Teori, VeritasLab Mahasiswa UNEJ Dikembangkan dari Riset dan Uji Coba Langsung Bersama Mahasiswa Hukum
FasilkomNews — Memahami teori hukum merupakan bagian penting dalam pendidikan mahasiswa hukum. Namun, ketika dihadapkan pada suatu kasus, mahasiswa juga perlu berlatih menghubungkan informasi, menilai bukti, dan menyusun kesimpulan secara sistematis. Berangkat dari kebutuhan tersebut, Tim BTC Naik Kelas dari Universitas Jember (UNEJ) mengembangkan VeritasLab, laboratorium investigasi virtual berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dan teknologi tiga dimensi (3D). Inovasi ini berhasil menjadi finalis Lomba Inovasi Digital Mahasiswa (LIDM) 2026 bidang Inovasi Teknologi Digital Pendidikan (ITDP).

Pengembangan VeritasLab diawali dengan penggalian kebutuhan melalui wawancara bersama mahasiswa hukum dari Universitas Jember, Universitas Muhammadiyah Jember, dan UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember. Wawancara ini dilakukan untuk memahami pengalaman belajar mahasiswa serta tantangan yang mereka hadapi dalam mempelajari investigasi kriminal.
Dari proses tersebut, tim menggali kebutuhan akan pengalaman belajar yang dapat menjembatani pemahaman teori dengan latihan analisis kasus. Masukan mahasiswa dari ketiga perguruan tinggi menjadi bahan pertimbangan dalam merancang solusi yang relevan dengan kebutuhan pembelajaran.
Berangkat dari Pengalaman Mahasiswa
Bagi mahasiswa yang mempelajari hukum, memahami konsep dan ketentuan hukum merupakan bagian penting dari pendidikan. Namun, proses menganalisis suatu kasus juga menuntut kemampuan untuk menghubungkan informasi, menilai relevansi bukti, mempertimbangkan berbagai kemungkinan, dan membangun argumentasi yang dapat dipertanggungjawabkan.
Az-Zahra Meidia Putri Basuki dan Erika Dwi Oktaviana Ramadhani menjadi bagian dari mahasiswa yang menyampaikan pengalaman dan pandangan mereka terkait kebutuhan pembelajaran investigasi.
“Menurut kami, memahami teori saja belum cukup untuk memberikan gambaran tentang bagaimana proses investigasi dilakukan. Mahasiswa juga perlu berlatih menganalisis kasus, memilah informasi, dan memahami hubungan antara petunjuk dengan kesimpulan yang dibuat. Karena itu, media pembelajaran yang memberikan pengalaman praktik akan sangat membantu proses belajar,” demikian pernyataan yang disampaikan keduanya.
Setelah melalui proses pengembangan, mahasiswa juga berkesempatan mencoba VeritasLab secara langsung. Uji coba ini memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk mengenal pendekatan pembelajaran investigasi melalui lingkungan virtual yang dirancang oleh tim.
Pelibatan pengguna tidak hanya dilakukan untuk menggali persoalan pada tahap awal, tetapi juga untuk memperoleh masukan setelah solusi dikembangkan. Pengalaman mahasiswa saat mencoba aplikasi menjadi salah satu bahan evaluasi untuk menyempurnakan rancangan VeritasLab agar semakin sesuai dengan kebutuhan pembelajaran.

Melibatkan Praktisi dan Ahli Pidana

Selain menggali pengalaman mahasiswa, pengembangan VeritasLab turut melibatkan perspektif dari bidang hukum dan pidana. Bima Zafier Nur Basmallah, Direktur Eksekutif FK2H, serta Dr. Y.A. Triana Ohoiwutun, S.H., M.H., ahli pidana, termasuk pihak yang dilibatkan dalam proses pengembangan.
Pelibatan perspektif tersebut menjadi bagian penting agar rancangan media pembelajaran tidak hanya berorientasi pada kecanggihan teknologi, tetapi juga mempertimbangkan konteks keilmuan hukum dan kebutuhan pembelajaran investigasi. Skenario kasus, informasi yang disajikan, serta aktivitas yang dilakukan mahasiswa perlu dirancang dengan memperhatikan ketepatan materi dan tujuan pembelajaran.
Perspektif praktisi dan akademisi hukum juga dapat menjadi bahan pertimbangan dalam mengevaluasi rancangan VeritasLab. Dengan mempertemukan pengalaman mahasiswa, perspektif praktik hukum, dan pengembangan teknologi, tim berupaya membangun media pembelajaran yang relevan bagi penggunanya.
Menghadirkan Ruang Latihan Investigasi Virtual
VeritasLab dirancang untuk menghadirkan ruang latihan investigasi dalam lingkungan virtual. Melalui simulasi 3D, mahasiswa dapat mengeksplorasi tempat kejadian perkara (TKP), mengamati petunjuk, serta menggali informasi melalui interaksi dengan karakter saksi dan korban virtual berbantuan AI sesuai skenario.
Informasi yang diperoleh dapat dihubungkan melalui Investigation Map untuk membantu mahasiswa memetakan keterkaitan kasus, keterangan, dan bukti. Mahasiswa juga dapat berlatih menyusun kronologi, merumuskan hipotesis, membangun argumentasi, hingga menyiapkan laporan investigasi.
VeritasLab turut mengembangkan Predictive Crime Intelligence untuk mendukung pembelajaran analisis pola kriminalitas berdasarkan data yang tersedia. Melalui fitur ini, mahasiswa dapat mempelajari persebaran kejadian, tren, dan pola waktu sebagai bahan analisis dengan tetap mempertimbangkan konteks serta keterbatasan data.
Teknologi AI juga dirancang untuk membantu dosen menyiapkan skenario dan mengevaluasi proses belajar mahasiswa. Meski demikian, validasi materi, penentuan tujuan pembelajaran, dan penilaian akademik tetap memerlukan peran dosen.
Menjadi Finalis LIDM 2026
VeritasLab dikembangkan oleh Tim BTC Naik Kelas yang diketuai Fabyan Yastika Permana, dengan anggota Allyya Novita Risqiyanti dan Talitha Puspitasari dari Fakultas Ilmu Komputer serta Najma Nabila Cahyono dari Fakultas Hukum Universitas Jember. Tim ini dibimbing oleh Dr. Brian Rizqi Paradisiaca Danoto, S.Kom., M.Kom.
Kolaborasi perspektif teknologi informasi dan hukum menjadi bagian dari pendekatan tim dalam merancang media pembelajaran investigasi virtual. Penggalian kebutuhan mahasiswa, pelibatan praktisi dan akademisi, serta uji coba bersama pengguna menjadi bagian dari perjalanan pengembangan inovasi tersebut.
Keberhasilan menjadi finalis LIDM 2026 bidang ITDP menjadi langkah lanjutan bagi Tim BTC Naik Kelas untuk menyempurnakan VeritasLab. Masukan pengguna dan evaluasi terhadap rancangan pembelajaran diharapkan dapat membantu tim menilai kesesuaian aplikasi dengan kebutuhan mahasiswa.
Melalui VeritasLab, Tim BTC Naik Kelas berupaya menghadirkan alternatif media pembelajaran yang tidak hanya membantu mahasiswa memahami teori, tetapi juga memberi ruang untuk berlatih menelaah informasi, menguji dugaan, dan menyusun.
Post a comment